Seperti yang aku tulis di entri sebelumnya, blog ini merupakan catatan mengenai anakku Pradipta dan info-info lainnya. So entri kali ini aku mau menulis mengenai sebelum aku mendapatkan Pradipta. Semoga setelah anakku besar, dia bisa membaca sejarah orang tuanya.
Setelah masa pacaran selama 6 tahun lebih, akhirnya aku menikah dengan suamiku pada 18 Februari 2007. Karena masih sama-sama muda (pada saat itu aku berumur 23 dan suamiku 24), kami masih belum terlalu memikirkan soal anak. Sampai akhirnya 2 bulan sebelum lebaran tahun 2007, ternyata aku hamil 1 bulan. Sebelum lebaran (umur kehamilan 2 bulan) aku akhirnya periksa ke dokter kandungan, dan keadaan kandungan baik-baik saja. Dokter menjadwalkan cek lagi setelah lebaran.
Setelah pulang mudik, aku langsung ke dokter untuk cek rutin, tapi ternyata janinnya sudah tidak berkembang lagi. Dokter menjadwalkan untuk kuret minggu depannya. Sedih banget waktu itu, ternyata setelah kehilangan baru terasa ada yang kurang di hidupku, padahal selama ini aku dan suami cuek2 aja. Karena takut mendengar kata-kata kuret, akhirnya aku mencari 2nd opinion (sambil dalam hati juga berharap kalo diagnosa dokter sebelumnya salah). Akhirnya aku temui dokter yang menurut kakakku bagus, dan hasilnya tetap sama. Tapi dokter yang kali ini bilang tidak perlu dikuret, karena kalau memang sudah tidak berkembang lagi maka janin itu akan jadi benda mati yang nantinya otomatis akan dikeluarkan sendiri oleh tubuh kita. Mendengar itu aku memutuskan untuk tidak kuret.
Setelah hampir 1 bulan, saat aku sedang main ke rumah mertua, tiba-tiba rasanya mulas sekali. Aku langsung ke kamar kecil dan (maaf) BAB. Tapi ternyata yang keluar banyak sekali darah, aku pindah ke lantai kamar mandi sambil memanggil suamiku, dan akhirnya dia datang dan melihat darah yang sudah berceceran di lantai. Mertuaku menyuruh suamiku untuk membawa aku ke RS, lalu aku berdua suamiku pergi. Tapi di jalan aku berubah pikiran dan minta pulang saja, setelah beberapa kali suamiku menanyakan apa aku yakin baik-baik saja kalau pulang, akhirnya kita pulang. Sampai rumah aku masuk lagi kamar mandi dan duduk di kakus dengan posisi seperti orang akan melahirkan. Suamiku menunggu di luar kamar mandi karena aku tidak mau ditungguin. Setelah mengejan beberapa kali akhirnya keluar gumpalan darah seperti hati sapi. Lalu aku bersihkan diri dan membungkus gumpalan darah tersebut. Karena agak lemas setelah kehilangan darah yang lumayan, aku minum teh manis, lalu tidur. Besoknya aku kubur gumpalan darah tersebut. Akhirnya aku merasakan mengalami keguguran dan tanpa proses kuret.
Beberapa hari kemudian, kakakku membawakan obat herbal untuk membersihkan rahim agar tidak ada sisa dan tidak terbentuk kista. Setelah minum obat itu sebulan, aku kembali lagi ke dokter, lalu dokter menyatakan rahimku sudah bersih dan setelah aku mendapatkan menstruasi lagi aku bisa berusaha lagi (untuk hamil). Tapi ternyata aku lama tidak hamil. Setiap kali menstruasiku berhenti atau terlambat aku langsung beli test pack 3 sekaligus (hehehe, biar yakin), tapi lagi2 negatif. Dan pernah suatu kali test pack menunjukkan 2 garis tapi yang 1 garis lagi (garis yang menunjukkan positif hamil) samar-samar, aku sudah seneng sekaligus khawatir takut salah, dan ternyata besoknya aku malah datang bulan lagi. Ternyata setelah keguguran, aku malah berusaha banget untuk hamil. Mungkin Allah sedang mengetes aku, apa aku sudah siap atau belum menjadi ibu. Ya akhirnya, aku jalani saja seperti biasa, nggak mau dibawa stress, sambil mulai sedikit demi sedikit merubah cara hidup yang sebelumnya masih main-main terus menjadi lebih serius. Lebih serius menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik.
1,5 tahun kemudian, seperti biasa aku telat datang bulan. Kali ini aku cuek aja, tapi tetap memakai test pack. Test pack menunjukkan positif, hmmm aku takut salah lagi. Aku beli test pack lagi dan ternyata positif lagi. Aku beri tahu suamiku (dia senang tapi ragu-ragu takut aku kecewa) sambil memberitahu dia untuk tidak memberi tahu ortu masing-masing dulu. Karena hamil sebelumnya yang keguguran, kami terlalu cepat memberi kabar ke keluarga masing-masing dan mereka saking senengnya langsung memberi tahu keluarga besarnya,(kata orang jaman dulu kan pamali kalo belum 3 bulan disebar-sebar) Maklum suamiku adalah anak pertama dari dua bersaudara, the only son, dan juga satu-satunya yang sudah menikah, sedangkan aku anak terakhir dari 4 bersaudara dan anak perempuan satu-satunya. Jadi kehamilanku sangat diharapkan kedua belah pihak karena cucu pertama bagi mertuaku dan cucu pertama dari anak perempuannya bagi orang tuaku. What a pressure!
Tapi karena tiap kali ke rumah mertua dan ortu ditanyain terus akhirnya kita cerita juga, sambil menekankan kata "MUNGKIN", biar mereka nggak kecewa lagi. Tapi ibu mertua minta di cek di dokter rekomendasi sepupu suamiku, akhirnya kita cek juga deh. Ternyata oh ternyata, aku benar-benar hamil 6 minggu, dan hari itu bertepatan dengan ultah suamiku, semoga menjadi kado terindah. Karena setelah 1,5 tahun akhirnya aku hamil lagi, sambil berdoa semoga kali ini Allah mengizinkan aku merawat dan membesarkan anak ini. Sekarang cuma bisa mengucapkan syukur karena Allah telah memberi kepercayaan kepadaku dan suamiku. Alhamdulillah.
Setelah masa pacaran selama 6 tahun lebih, akhirnya aku menikah dengan suamiku pada 18 Februari 2007. Karena masih sama-sama muda (pada saat itu aku berumur 23 dan suamiku 24), kami masih belum terlalu memikirkan soal anak. Sampai akhirnya 2 bulan sebelum lebaran tahun 2007, ternyata aku hamil 1 bulan. Sebelum lebaran (umur kehamilan 2 bulan) aku akhirnya periksa ke dokter kandungan, dan keadaan kandungan baik-baik saja. Dokter menjadwalkan cek lagi setelah lebaran.
Setelah pulang mudik, aku langsung ke dokter untuk cek rutin, tapi ternyata janinnya sudah tidak berkembang lagi. Dokter menjadwalkan untuk kuret minggu depannya. Sedih banget waktu itu, ternyata setelah kehilangan baru terasa ada yang kurang di hidupku, padahal selama ini aku dan suami cuek2 aja. Karena takut mendengar kata-kata kuret, akhirnya aku mencari 2nd opinion (sambil dalam hati juga berharap kalo diagnosa dokter sebelumnya salah). Akhirnya aku temui dokter yang menurut kakakku bagus, dan hasilnya tetap sama. Tapi dokter yang kali ini bilang tidak perlu dikuret, karena kalau memang sudah tidak berkembang lagi maka janin itu akan jadi benda mati yang nantinya otomatis akan dikeluarkan sendiri oleh tubuh kita. Mendengar itu aku memutuskan untuk tidak kuret.
Setelah hampir 1 bulan, saat aku sedang main ke rumah mertua, tiba-tiba rasanya mulas sekali. Aku langsung ke kamar kecil dan (maaf) BAB. Tapi ternyata yang keluar banyak sekali darah, aku pindah ke lantai kamar mandi sambil memanggil suamiku, dan akhirnya dia datang dan melihat darah yang sudah berceceran di lantai. Mertuaku menyuruh suamiku untuk membawa aku ke RS, lalu aku berdua suamiku pergi. Tapi di jalan aku berubah pikiran dan minta pulang saja, setelah beberapa kali suamiku menanyakan apa aku yakin baik-baik saja kalau pulang, akhirnya kita pulang. Sampai rumah aku masuk lagi kamar mandi dan duduk di kakus dengan posisi seperti orang akan melahirkan. Suamiku menunggu di luar kamar mandi karena aku tidak mau ditungguin. Setelah mengejan beberapa kali akhirnya keluar gumpalan darah seperti hati sapi. Lalu aku bersihkan diri dan membungkus gumpalan darah tersebut. Karena agak lemas setelah kehilangan darah yang lumayan, aku minum teh manis, lalu tidur. Besoknya aku kubur gumpalan darah tersebut. Akhirnya aku merasakan mengalami keguguran dan tanpa proses kuret.
Beberapa hari kemudian, kakakku membawakan obat herbal untuk membersihkan rahim agar tidak ada sisa dan tidak terbentuk kista. Setelah minum obat itu sebulan, aku kembali lagi ke dokter, lalu dokter menyatakan rahimku sudah bersih dan setelah aku mendapatkan menstruasi lagi aku bisa berusaha lagi (untuk hamil). Tapi ternyata aku lama tidak hamil. Setiap kali menstruasiku berhenti atau terlambat aku langsung beli test pack 3 sekaligus (hehehe, biar yakin), tapi lagi2 negatif. Dan pernah suatu kali test pack menunjukkan 2 garis tapi yang 1 garis lagi (garis yang menunjukkan positif hamil) samar-samar, aku sudah seneng sekaligus khawatir takut salah, dan ternyata besoknya aku malah datang bulan lagi. Ternyata setelah keguguran, aku malah berusaha banget untuk hamil. Mungkin Allah sedang mengetes aku, apa aku sudah siap atau belum menjadi ibu. Ya akhirnya, aku jalani saja seperti biasa, nggak mau dibawa stress, sambil mulai sedikit demi sedikit merubah cara hidup yang sebelumnya masih main-main terus menjadi lebih serius. Lebih serius menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik.
1,5 tahun kemudian, seperti biasa aku telat datang bulan. Kali ini aku cuek aja, tapi tetap memakai test pack. Test pack menunjukkan positif, hmmm aku takut salah lagi. Aku beli test pack lagi dan ternyata positif lagi. Aku beri tahu suamiku (dia senang tapi ragu-ragu takut aku kecewa) sambil memberitahu dia untuk tidak memberi tahu ortu masing-masing dulu. Karena hamil sebelumnya yang keguguran, kami terlalu cepat memberi kabar ke keluarga masing-masing dan mereka saking senengnya langsung memberi tahu keluarga besarnya,(kata orang jaman dulu kan pamali kalo belum 3 bulan disebar-sebar) Maklum suamiku adalah anak pertama dari dua bersaudara, the only son, dan juga satu-satunya yang sudah menikah, sedangkan aku anak terakhir dari 4 bersaudara dan anak perempuan satu-satunya. Jadi kehamilanku sangat diharapkan kedua belah pihak karena cucu pertama bagi mertuaku dan cucu pertama dari anak perempuannya bagi orang tuaku. What a pressure!
Tapi karena tiap kali ke rumah mertua dan ortu ditanyain terus akhirnya kita cerita juga, sambil menekankan kata "MUNGKIN", biar mereka nggak kecewa lagi. Tapi ibu mertua minta di cek di dokter rekomendasi sepupu suamiku, akhirnya kita cek juga deh. Ternyata oh ternyata, aku benar-benar hamil 6 minggu, dan hari itu bertepatan dengan ultah suamiku, semoga menjadi kado terindah. Karena setelah 1,5 tahun akhirnya aku hamil lagi, sambil berdoa semoga kali ini Allah mengizinkan aku merawat dan membesarkan anak ini. Sekarang cuma bisa mengucapkan syukur karena Allah telah memberi kepercayaan kepadaku dan suamiku. Alhamdulillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar